BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
Mahasiswa merupakan sebuah miniature masyarakat intelektual yang memilki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas. Dengan sifat intelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi model yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, dan kritis, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada.
Melalui matakuliah Character Building inilah, mahasiswa dapat mulai belajar dan dituntun untuk membuka cakrawala pengetahuan untuk mengabdi kepada masyarakat. Mahasiswa tidak melulu harus berkungkung pada teori, namun kita dapat terjun kedunia mereka dengan menyelami kehidupan dengan menjadi volunteer di Panti Jompo. Melayani lansia dengan karakter dan keterbatasan yang berbeda-beda. Jelas menjadi sukarelawan di Panti Jompo bukan perkara yang mudah diperlukan pendidikan dan keterampilan khusus agar dapat menangani mereka namun selain pendidikan dan keterampilan khusus, diperlukanjuga yang namanya “Ketulusan, kesabaran, dan rasa mengasihi”.
Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.
1.2 Tujuan
1. Diharapkan mahasiswa loyal danberpartisipasiaktif di dalamtugasini.
2. Diharapkan tugas ini tidak hanya sekedar tugas, tetapi mahasiswa mampu melayani dengan ketulusan, kesabaran, dan mengasihi mereka.
3. Diharapkan mahasiswa mengetahui tentang karakter dan sifat mereka serta mampu beradaptasi dengan berbagai karakter.
1.3 MetodePengamatan
Pengamatan yang kami lakukan yaitu dengan berinteraksi dan melayani para lansia secara langsung, seperti memandikan lansia yang memiliki keterbatasan, berjemur, sharing dan berbagi cerita tentang masa lalu mereka.
BAB II
GAMBARAN UMUM
(WISMA LANSIA J.SOENARTI NASUTION)
2.1 PROFIL PANTI
A. NamaPanti : WISMA LANSIA J. SOENARTI NASUTION
B. Status Panti : Swasta
C. NomorStatistikPanti : 802026702002
D. AlamatPanti : Jl. Pak Gatot 1 No.20 KPAD Gegerkalong,Bandung
E. TahunBerdiri : 1973
F. WaktuPenyelenggaraan : Pagi
G. NamaKepalaPanti : Dra. HeniHanifah
2.2 Visi :
Terwujudnyausaha kesejahteraan sosial yang lebih aspiratif dan akomodatif bagi anak dan lansia, khususnya dibidang pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial.
2.3 Misi:
1. Mendirikan/menyelenggarakan Panti-panti penampungan.
2. Memberikan Bea siswa bagi anak yang tidak mampu.
3. Mendirikan/menyelenggarakan sekolah-sekolah dalam bidang pendidikan.
4. Mendirikan/menyelenggarakan Klinik-klinik atau Rumah Sakit dalam bidang kesehatan dan lain-lain.
BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 AKTIVITAS DAN PENGENALAN
Sebelum membahas kegiatan-kegiatan apa saja yang saya lakukan selama menjadi volunteer di sebuah panti jompo saya ingin berbagi cerita terlebih dahulu tentang apa yang terjadi tadi sore tepatnya pada hari Jum’at, 16 Januari 2015. Jadi ceritanya begini kemarin malam saya baru mengerjakkan revisi laporan panti ini dan alhamdulillah saya menyelesaikan laporan ini sekitar pukul 06:40, pikir saya karena masih terlalu pagi dan saya masih sedang menyempurnakan tugas kusioner akhirnya tugas yang sudah selesai itu tidak langsung saya print, saya berniat untuk ngeprint bareng dengan tugas yang kusioner itu, dan ternyata tak saya sangka bahwa saya menyelasaikan tugas kusioner itu sekitar pukul 14:30, kedua tugas itu seharusnya dikumpulkan pada pukul 15:00 tapi karena saya telat maka teman-teman saya dikelaspun ikut merasakan dampak negatifnya karena 4 orang yang telat. Hikmah yang dapat saya ambil dari kejadian ini adalah saya menjadi sadar jika selama ini saya masih berada didaerah kuadran 1; saya masih menunda-nunda tugas, motto saya masih “aku akan berhenti menunda-nunda—nanti”. Sekarang jelas dengan begini saya akan benar-benar berubah SEKARANG bukan nanti. Harapan saya janji-janji dan komitmen yang saya tuliskan jangan hanya sekedar hasrat saja, tapi benar-benar impian atau cita-cita, dan untuk mencapai impian itu saya harus benar-benar serius berlatih dan berani mengambil keputusan. Oke i’m promise !
****
Baiklah ini adalah cerita aslinya bagaimana kehidupan di panti yang sebenarnya, gambaran lansia secara umum,dan masalah umum yang dihadapi oleh lansia.
Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi sukarelawan dan pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman indah dan tidak terlupakan itu adalah ketika setiap hari jum’at, sabtu, dan minggu selama bulan November sampai pertengah bulan Desember saya menjalani rutinitas sebagai “pelayan” para lansia di panti “Wisma Lansia J.Soenarti Nasution”.
Panti ini teletak di sebuah kawasan perumahan dinas TNI di KPAD. Panti ini mempunyai tiga lantai dengan 11 kamar untuk lansia, 2 kamar untuk petugas, dapur, gudang, ruang tv, ruang makan, kamar mandi, dan ruangan-ruangan lain yang masih banyak lagi, memang kalau dilihat dari design bangunannya terlihat rapi, nyaman, karena suasana yang teduh dan dingin, akan tetapi dalam kenyataannya kehidupan lansia disana sulit untuk dikatakan “nyaman" (dalam suasana batiniah bukan dlohiriah) meraka selalu berusaha untuk keluar dari bangunan itu tapi apa yang mereka lakukan tidak pernah mendapapatkan hasil yang baik. Mereka bisa berada disana kebanyakan bukan karena keinginan mereka akan tetapi keadaan yang memaksa mereka untuk tinggal disana. Banyak kisah dibalik keberadaan mereka di panti ini, salahsatu kisahnya adalah ada yang benar-benar tak punya apa-apa karena musibah tsunami Aceh tahun 2004 lalu, berikut adalah cerita lengkapnya.
Sebenarnya yang terkena tsunami itu adalah anak beliau satu-satunya dan pada waktu itu beliau tinggal sendirian di Badung, ketika beliau mendengar berita stunami itu, beliau putus asa, dan sempat sakit selama 2 tahun sampai tidak bisa berjalan. Pada saat itu beliau sangat terpukul, dan beliau tidak tahu harus minta tolong kepada siapa, karena orang yang dulu menjadi tumpuan hidup beliau, istilahnya secara mendadak beliau kehilangan tiang penopang. Orang yang membiayai beliau sekarang telah tiada, hati beliau benar-benar hancur. Anak, menantu, dan cucu beliau tidak bisa kembali lagi. Akhirnya beliau hanya fokus memikirkan bagimana caranya ia bertahan hidup dan bersyukurlah beliau mempunyai tetangga yang berbaik hati menolong beliau. Selama kurang lebih 7 tahun beliau hidup sebatangkara. Pak Dada Rosada menawari Mbah agar tinggal di panti saja karena ternayata ada sebuah panti milik pemerintahan yang menampung lansia,dan tidak harus mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya hidup selama di panti, semua ditanggung oleh pemerintah. Akhirnya beliau menyetujui tawaran tersebut dengan pertimbangan yang matang dan pada awal tahun 2011 beliau diantar oleh Pak Dada Rosada berangkat ke panti, dan beliau resmi tinggal di panti Wisma Lansia J.Soenarti Nasution.
Hari Sabtu,15 November 2014 adalah awal dari pengalaman-pengalaman indah yang saya ceritakan di awal. Hari itu saya tiba di panti sekitar pukul 08:00 dan bertemu dengan Pak Engkus ( petugas inti panti ), sebelumnya kami belum pernah bertemu dengan bapa itu karena ketika dulu kami mengantarkan surat izin dari kampus kami langsung ke pengurus pantinya, ini adalah awal pertemuan kami dengan petugas panti, dan kami juga berkenalan dengan juru masak disana yang bernama Ibu Nani.
Setelah sempat bingung mau ngapain disana akhirnya kami bertanya kepada Pak Engkus apa yang bisa kami bantu, kebetulan Pak Engkus sedang memegang sapu dan lap pel, Pak kus bertanya kepada kami “mau gak bantuin bapa bersihin ruang makan?” tanpa pikir panjang kamipun langsung menjawab “boleh pak J” kami sangat antusias karena ini adalah tugas pertama kami menjadi sukarelawan.
Setelah selesai membersihkan ruang makan, kami mulai bingung lagi, dan kali ini yang kami tanya bukan Pak Engkus, tapi kami bertanya kepada Ibu Nani “bu..ini berih-bersihnya udah selesai sekarang saya harus ngapain ya bu ??” memang pertanyaan ini kelihatannya bodoh sekali, tapi mau bagaimana lagi karena kami belum tahu dimana kita bisa berkomnikasi dengan lansia, jam berapa kami bisa berhubungan dengan lansia, dan lain sebagainya. Ibu Nani pun menjawab “ iya terimakasih neng, sekarang neng kedepan saja soalnya semua lansia sedang berjemur di taman”. Karena sudah tidak sabar untuk berkenalan dengan Oma dan Opa yang ada disana, kamipun bergegas pergi ketaman. Dan benar saja ternyata Oma dan Opa sedang duduk-duduk di taman. Pikir saya ini adalah kesempatan bagus untuk mencari informasi tentang mereka.
Diawal pertemuan mereka sempat bingung dan acuh terhadap kami si mahasiswa “PKL” , kenapa PKL ? karena mereka hanya tahu jika ada mahasiswa yang datang kesana adalah dalam rangka penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir. Miris sekali bukan ? kami bergegas untuk memperkenalan diri dan kami menceritakan tujuan kami ada disana untuk apa. Kebetulan yang ada di taman pada waktu itu sebanyak 10 orang, saya meminta agar mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing, saya mengabsen satu-persatu dan meminta mereka untuk menyebutkan nama serta asal mereka dari mana.
Ø Yang pertama mendepatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri yaitu Opa Kholidin, Opa ini biasa di panggil Pak Didin, beliau berasal dari Cilenyi.
Ø Yang kedua yaitu Mbah Manisem, Mbah ini berasal dari Cilacap.
Ø Yang ketiga adalah Oma Ameh, Oma ini berasal dari . . . .
Ø Yang keempat yaitu Oma Meli, beliau berasal dari Bandung.
Ø Selanjutnya yang kelima aitu Oma Sutinah, beliau berasal dari Sumedang.
Ø Yang keenam yaitu Oma Koesbiahti, Oma yang satu ini berasal dari Depok.
Ø Yang ketujuh yaitu Oma Siti, Oma yang satu ini berasal dari kota Mangga “Indramayu” J
Ø Yang kedelapan yaitu Opa Cahyono, beliau berasal dari Cimahi.
Ø Selanjutnya orang kesembilan yag mengenalkan diri yaitu Opa Suito, Opa yang satu ini berasal dari Yogyakarta, beliau adalah keturunan kerajaan Mataram dan kraton Yogyarta. Wooow
Ø Dan yang ini perkenalan yang terakhir pada hari pertama berdinas, orang kesepuluh yaitu Oma Uka, oma yang satu ini berasal dari Sumedang.
Setelah kami mengetahui sedikit tentang mereka dari perkenalan singkat itu akhirnya kami teruskan dengan mengobrol ringan serta saya bertanya tentang masa lalu Opa dan Oma disana.
Dan tidak terasa waktu cepat berputar, kami menghabiskan waktu sekitar 90 menit hanya untuk mengobrol. Dan akhirnya tiba saatnya untuk makan siang, kami bertugas untuk mengantarkan makan ke setiap kamar lansia yang tidak biasa makan bareng di ruang makan. Dan kamipun bertugas untuk menyuapi lansia yang tidak bisa makan sendiri.
Setelah para lansia selesai makan kami langsung membereskan dan mencuci piring-piring yang tadi dipakai oleh para lansia. Sekitar pukul 12:00 kami pamit kepada semua penghuni panti dan ketika pamit kepada sang juru masak yaitu Ibu Nani, beliau sempat berpesan agar besok ( hari Minggu) kami harus datang lebih awal sekitar pukul 06:00 karena kami diberi tugas untuk memandikan 4 orang lansia putri yang memiliki keterbtasan baik secara fisik maupun mental.
Itu adalah pengalaman hari pertama saya menjadi sukarelawan, ketika malam datang saya mereview kembali kegiatan-kegiatan yang telah saya jalani tadi pagi dan saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dari hari pertama itu, saya berpikir betapa beruntungnya saya masih diberi kesempatan untuk bisa tinggal bersama orang tua, masih diberi kesempatan untuk bisa melihat nenek yang masih sehat, dan nikmat yang lain yang tidak dimiliki lansia disana tapi saya masih bisa merasakan kenikmatan itu. Terimakasih Robb.
Saya ingin mengulas lebih mendalam karakter serta kisah 10 lansia yang pada hari pertama berkenalan di taman.
Yang pertama yaitu Opa Didin, beliau berasal dari Cilenyi dan beliau baru berusia 58 tahun selain itu informasi yang saya dapatkan tentang Opa Didin adalah beliau mempunyai 5 orang anak dan istri nya-pun masih ada. Entah apa yang mendasari sehingga beliau bisa sampai tinggal disebuah panti jompo. Menurut pendapat beliau katanya istri beliau sudah tidak mau megurus beliau lagi. Padahal beliau masih bisa dikatakan sehat dan secara mental belia masih belum pikun, entahlah mungkin karena beliau mempunyai sedikit keterbatasan mungkin saja istrinya malu megurus beliau. Ketika beliau muda, beliau bekerja di salon. Bisa saya simpulkan satelah melihat kesehariaan Opa Didin di panti, beliau orangnya tidak pernah membuat keributan atau mencari masalah dengan penghuni panti yang lain, beliau cenderung memiliki sifat individualis dan tak ingin tahu masalah apa yang terjadi dengan penghuni panti yang lain.
Yang kedua yaitu Mbah Manisem,beliau berasal dari Cilacap, Mbah adalah lansia putri tertua disana, umur beliau sudah 91 tahun, beliau mempunyai 1 anak, 1 menantu, dan 3 orang cucu. Beliau sudah tinggal dipanti selama 3 tahun, beliau adalah satu-satunya orang yang masih nyambung jika diajak bicara, kepekaan beliau terhadap teman-teman lansia yang lain membuat beliau sangat dihargai dan disayangi oleh seluruh penghuni panti termasuk oleh semua pengurus panti. Selama di panti saya selalu diajari dan beri nasihat tentang kesabaran dan ketabahan dalam menjalani semua ujian. Mbah sempat bercerita kepada saya seperti ini “ waktu dulu hidup Mbah itu makmur, Mbah sudah mempunyai rumah yang nyaman, punya toko, perhiasan juga ada, tapi ketika menantu (wanita) mbah meninggal, anak mbah tergila-gila dengan wanita orang bandung dan kelihatannya wanita itu tidak cukup baik, karena bisa dilihat setelah mengenal wanita baru itu anak mbah jadi banyak hutang ke bank dia juga menggadaikan rumah yang mbah tinggali, akhirnya semua harta mbah dijual untuk membayar hutang anak mbah, karena di Cilacap mbah sudah tidak memiliki apa-apa lagi akhirya mbah memutuskan untuk berurbanisasi ke Bandung berbekal uang sisa hasil penjualan rumah,toko,serta perhiasannya”. Melihat perjalan hidup beliau yang sangat terjal dan berliku saya selalu bercermin dan menanyakan kepada diri saya sendiri apakah ujian dan rintangan saya sudah sama seperti beliau?? Saya rasa belum, karena saya masih mempunyai orangtua yang senantiasa menyayangi dan mengasihi diri saya sampai saat ini. Betapa selama ini saya tidak menyadari nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada diri saya, selama ini saya lupa memperhatikan orang-orang yang selalu ada di samping saya. Astagiruloh kemana saja saya selama ini. Benar-benar memprihatinkan.
Cerita selanjutnya datang dari orang Bangka Belitung, siapa sih orang Bangka yang nyasar ada di Wisma Lansia ? hehe Beliau bernama Ibu Rusmiati ,biasanya beliau dipanggil Oma Ameh, beliau berusia 86 tahun, beliau mempunyai 6 orang anak, beliau baru 3 bulan tinggal di panti. Beliau ini agak sulit untuk diajak bicara , secara dlohiriah beliau masih sehat , tetapi secara mental beliau sudah kacau. Saat pertama kali saya kesana, saya sempat merasa heran dan aneh kenapa ada lansia yang senang bicara sendiri, dan ketika asik bicara sendiri bahasa yang digunakannya itu sulit untuk kami mengerti, tapi kedengarannya beliau menggunakan bahasa Cina atau Mandarin ketika berkomunikasi dengan bayangannya. Selidik punya selidik ternyata menurut Mbah Manisem (teman 1 kamarnya), Oma Ameh menjadi seperti itu sebab utamanya karena suaminya meninggal. Mungkin Oma ini sangat bergantung sekali pada suaminya, sehingga ketika suaminya meninggal Oma ini merasa terpukul sekali dan shock. Menurut saya penyakit yang diderita Oma Ameh ini seperti yang biasa orang sebut dengan penyakit “skezofriend”, penayakit ini membuat si penderita seolah-olah mempunyai teman mengobrol yang banyak dan penderita terlihat berhalusinasi dengan bayangan-bayangan yang muncul dihadapannya. Sehingga kami orang awam menganggap bahawa penderita penyakit ini seperti maaf “kurang waras”.
Yang keempat yaitu Oma Meli, Oma yang satu ini bersal dari Bandung, akan tetapi ia selalu keukeuh ingin disebut sebagai orang Garut …ada-ada sajaJ Oma dengan postur tubuh yang tinggi besar ini sangat sulit untuk diajak bercerita, adapun jika ia sudah bercerita tak jarang tiba-tiba saja Oma ini akan menangis padahal kami belum sempat bertanya apa-apa. Sungguh aneh memang tapi itu jenis karakter yang saya temui di Panti itu. Ohhiyaa satu lagi, jika sang juru masak membagikan nasi kesetiap piring lansia diatas meja makan, Oma ini pasti marah jika piring milik beliau nasinya sedikit. Dan kebiasaan beliau ketika makan adalah selalu mendahulukan untuk makan semua lauk nya dulu, baru setelah lauknya habis beliau baru memakan nasinya hahaha J sungguh kegiatan yang tidak lazim, tapi percaya tidak percaya ternyata di dunia ini ada juga orang berkepribadiaan seperti Oma Meli ini. Selama saya di panti saya juga orang berkepribadiaan seperti Oma Meli ini. Selama di panti saya memperhatikan aktivitas yang Oma ini lakukan, kelihatannya Oma ini kurang memiliki hubungnan yang baik dengan dengan lansia yang lain. Beliau seperti tidak mempunyai teman, tapi saya salut kepada beliau, meskipun beliau seperti hidup sendirian tapi beliau masih terlihat tegar dan semangat. (ketegarannya patut saya contoh J)
Yang kelima yaitu Oma Sutinah, beliau berasal dari Sumedang, Oma Sutinah ini satu kamar dengan Mbah Manisem dan hubungan mereka dekat sekali. Akan tetapi Oma ini agak kurang disenangi oleh semua pengurus panti yang ada disana. *Loh kenapa?? Karena katanya menurut mereka Oma ini cerewet sekali, tapi menurut saya semua lansia wajar saja kalau cerewet , namanya juga lansia sifat mereka cenderung seperti anak-anak lagi, mereka seperti ingin mendapatakan perhatian yang lebih. Hobby Oma Sutinah adalah menonton pertandingan bola di televisi teman setia Oma ketika menonton bola adalah Opa Didin.
Yang keenam adalah Oma Koesbiahti, Oma ini berasal dari Depok. Oma yang satu ini mempunyai hati yang baik dan tulus, beliau tidak pernah membuat masalah dengan penghuni panti yang lain, karena ketulusan hatinya beliau banyak disenangi oleh semua orang. Beliau tidak sempat menikah alhasil beliau tidak mempunyai keturunan, jadi yang selama ini mengelola semua gaji yang beliau miliki adalah saudaranya. Beliau adalah seorang pensiunan Dosen, dahulu beliau menjadi seorang dosen mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung, sayangnya saat itu saya tidak bisa belajar lebih banyak kepada beliau, karena saat ini beliau sudah pikun dan benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa lagi, selain yang beliau ingat sampai saat ini adalah nama kedua orangtuanya, dan ketujuh nama saudaranya. Sangat memprihatinkan memang, bahkan saking pelupanya Oma Kus ini lupa apa yang harus ia lakukan jika ia hendak melakukan suatu kegiatan seperti, mandi, pergi ke taman, ke ruang makan, dsb. Setelah saya meliahat kejadian seperti ini saya selalu teringat dengan qalam Alloh SWT dalam QS. Al-hadid (57) ayat 20 yang berbunyi seperti ini “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya senda gurau , perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta belomba dalam kekeyaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani: kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridloan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”.
Saya tersadar dengan ayat itu setelah melihat kejadian yang menimpa Oma Kus ini, dulu Oma ini mungkin sangat di cari dan dibutuhkan kehadirannya, betapa tidak, beliau seorang dosen mikrobiologi ITB yang mugkin tidak diragukan lagi pengalaman serta ilmu yang ia miliki, tapi sekarang beliau lupa penglaman berharga itu, sekarang beliau lupa semua ilmu yang berharga itu. Bukankah itu sepeti kesenangan yang palsu? Entahlah itu hanya pendapat sayaJ. Oke cerita selanjutnya
Cerita yang ketujuh datang dari kota yang terkenal dengan mangga nya yang manis, yaitu Oma Siti berasal dari Indramayu. Beliau seorang single fighter sama seperti Oma Kus yang tidak mempunyai keturunan. Beliau sewaktu kecil adalah seorang penyanyi gereja karena beliau selalu mengikuti ayah nya yang seorang pendeta. Oma ini Oma terrapi yang ada di panti itu. Kegiatan yang selalu Oma lakukan adalah membereskan tempat tidur dirinya dan kedua temannya yang 1 kamar dengan beliau. Ketika berumur sekitar 25 tahunan Oma ini bekerja sebagai guru PAUD anak-anak orang Belanda.
Cerita yang kedelapan datang dari Opa Cahyono, beliau berasal dari Cimahi, tak banyak yang saya ketahui dari diri Opa yang satu ini ,karena untuk bisa mengobrol dengan dirinya saja itu sudah menjadi hal yang luar biasa bagi saya , kenapa? Karena Opa ini orangnya agak temperamental dan bahkan kedua teman saya takut untuk berkomunikasi dengan beliau karena takut kena amarahnya. Dulunya beliau bekerja di Astra. Opa yang satu ini selalu memarahi lansia yang lain jika menurut dirinya lansia itu mengusik kehidupannya. Tak segan-segan ia mengatai temannya dengan kata-kata yang kasar. Tapi semua orang yang ada disana sudah bisa menerima kepribadian jelek Opa itu.
Yang kesembilan adalah cerita yang datang dari keturunan keraton Yogyakarta, beliau bernama Opa Suito, beliau adalah Opa tertua di Panti itu umur Opa saat ini adalah 88 tahun. Banyak yang saya dapatkan ketika mengobrol dengan Opa ini, banyak sekali cerita-cerita luar biasa yang pernah Opa ini alami. Dulu saya diajari sedikit bahasa Belanda, dan yang paling saya ingat adalah Opa ini sempat mengajari saya tentang perbedaan antara sukma, jiwa, dan raga. Untuk cerita lebih lengkapnya akan saya bagikan di profil 2 orang yang lebih saya ketahui secara mendalam.
Cerita yang terakhir, cerita yang kesepuluh adalah datang dari orang Sumedang yaitu Oma Uka. Satu hal yang membedakan antara Oma Uka dengan Oma-oma yang lain atau dengan semua penghuni panti yang lain adalah kecepatan beliau ketika makanJ. Tak ada yang bisa mengalahkan kecepatan Oma ini ketika makan , saya selalu bertanya kepada beliau seperti ini ”Oma udah makan?” beliau dengan tersenyum menjawab pertanyaan saya “ udah atuh sayang, lamun lila mah geus deui katembak” heheJ. Beliau masih menerapkan kedisiplinan yang diajarkan suaminya ketika masih ada dan masih bekerja sebagai anggota TNI di jaman penjajahan.
Mungkin hanya itu yang dapat sedikit saya ceritakan dari pengamatan karakter yang ada di Panti Lansia Wisma J.Soenarti Nasution selama kurang lebih kami satu bulan disana.
Banyak hal berharaga yang saya dapatkan selama menjalankan tugas ini, bahkan sampai waktu pengumpulan tugaspun saya masih mendapatkan pelajaran dan hikmah dari adanya tugas ini. Sebagian kecil pengalaman ini tercermin dalam buku “7 Habits of Highly Effective Teens”, dan salah satu pelajaran yang saya alami disana yang merupakan aksi nyata dari pengamalan buku itu adalah pertama saya sudah belajar bagaimana caranya keluar dari wilayah nyaman saya dan mencoba menyelami wilayah berani saya dengan melakukan kegiatan yang sungguh awalnya itu asing dalam hidup saya seperti memandikan lansia yang benar-benar tidak bisa berjalan, dan menemani seorang lansia yang tuna netra ketika beliau ingin menonton tv, ketika itu saya seperti penerjemah tayangan dalam tv itu. Ini sungguh pelajaran berharga. Yang kedua dengan kegiatan sharing di panti itu saya belajar merealisasikan kemenangan public saya dengan berusaha memahami terlebih dahulu, baru dipahami, pada bagian ini saya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Yang ketiga saya belajar melatih sinergi dengan cara bekerja sama dengan kedua teman saya ketika kita melakukan suatu kegiatan seperti mencuci piring, saling bantu dalam hal mencari informasi,dsb. Ini benar-benar pengalaman yang menakjubkan, betapa tidak kita masih mahasiswa baru tapi sudah diajari untuk bisa terjun kelapangan , melihat dan mengamati ritme kehidupan yang selalu berganti
3.2 PROFIL LANSIA
3.2.1 Opa Suito
Nama : Rd. Suito Tetoatmojo
Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 12 januari 1927
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Riwayat pendidikan : 1. Kelas nol (setara TK)
1. His
2. MULO
3. AMS
4. B1
5. B2
Opa yang satu ini adalah opa tertua dipanti, beliau berusia 87 tahun dan yang luar biasa beliau masih nyambung jika diajak ngobrol, beliau masih ingat peristiwa-peristiwa jaman penjajahan, cerita-cerita tentang hidupnya,dsb.
Opa Suito ini adalah keturunan dari Kerajaan Mataram, pada saat usia satu tahun beliau sudah diajak pindah oleh ayahnya ke kota Bandung. Beliau dibesarkan dari sejak kecil dengan bahasa Belanda dan pada saat usia lima tahun beliau sudah lancar berbahasa Belanda.
Opa Suito menikah pada tahun 1949 dan dikaruniai 6 orang anak (3 orang putra dan 3 orang putri). Putra opa yang pertama lahir pada tahun 1950, tepat setahun setelah menikah. Setelah istrinya meninggal Opa Suito memutuskan untuk menikah lagi dan dengan istri yang ke-2 Opa dikaruniai 4 orang anak ( 1 orang putra dan 3 orang putri). Dan sekarang 8 (putra dan putri) opa telah menikah dan bekerja, yang sebagian besar mempunyai perusahan sendiri.
Ini kisah tentang pekerjaan beliau, Opa bekerja selama 7 tahun di Telkom dan setelah bosan beliau pindah ke Angkatan Darat dan di AD opa bekerja selama 2 tahun,dan beliau juga pernah bekerja di Uniliver, PFN selama 2 tahun. Kira-kira pada tahun 1953 Opa Suito ini pernah menjabat sebagai kepala sekolah di SMAN 5 Bandung, Beliau menggantikan kepala sekolah yang pertama bernama Pak Sutopo karena meninggal. Dan Pada peristiwa “Bandung Lautan Api” Beliau pernah diperintah oleh Jendral Gatot Subroto untuk membawa pemancar radio ke daerah Yogyakarta. Memang sungguh sangat luar biasa pengalaman Opa yang satu ini.
Opa Suito sudah berada dipanti selama 2 tahun, alasan opa tinggal dipanti karena beliau tidak ingin merepotkan anak-anaknya dan jika dirumah sendirian anaknya khawatir karena tidak ada yang mengurus. Akhirnya pada tahun 2012 beliau memutuskan untuk menjual rumahnya yang ada dikawasan Jl. Otista, gang Kebon Manggu, dan tak lama setelah itu beliau bertekad untuk tinggal dipanti jompo. Sebelumnya beliau berkata kepada anak bungsunya yang bernama Triana Suitadewi begini “ nak, kalau papah gak betah disini papah mau pulang lagi aja, sekarang papah mau coba 2 bulan dulu, kalau betah lanjutin kalo gak betah papah mau pulang”. Begitulah rengek beliau kepada anak yang mengantar kepanti.
Harapan yang beliau inginkan adalah ia ingin menikah lagi#katanya
3.2.2. Opa Mamat
Nama : Rahmat
Umur : 65 tahun
Asal : Cianjur
Agama : Islam
Riwayat Pendidikan : Tamat SD
Ini cerita tentang opa dari Cianjur, beliau agak sulit untuk diajak bercerita, beliau juga agak kurang mendengar tapi bukan tuna rungu. Beliau berasal dari Cianjur beliau adalah opa rahmat atau biasa dipanggil opa mamat. Beliau sudah 2 tahun lebih tinggal dipanti wisma lansia ini. Alasan beliau tinggal dipanti adalah karena sudah tidak ada lagi sang istri yang menemani dan beliau tidak mempunyai anak satupun. Beliau merasa sudah tidak punya siapa-siapa, beliau adaah anak ke 4 dari 5 bersaudara dan ada salahsatu dari kakak beliau yang ingin merawatnya dan tinggal bersamanya akan tetapi istri dari kakak nya itu keberata jika opa mamat tinggal bersama keluarganya. Padahal selama ini di Cianjur Opa Mamat mempunyai sebuah rumah, akan tetapi semua harta bendanya diambil oleh adik dari istrinya ,dan Opa Mamat tidak bisa berbuat apa-apa.
Pada jaman dahulu Opa tidak mempunyai pekerjaan yang tetap ,segala hal prah ia coba mulai dari menjadi kendektur bus berjualan es keliling, jualan diwarung, dan segala macam usaha pernah ia coba.
Saat ini yang membiayai Opa Mamat di panti adaah kakak nya yang bernama Pak Edi, beliau tinggal di Daerah Kebon Kalapa.
Saat ini Opa Mamat berharap ada yang bersedia menampungnya di rumah benar-benar rumah, bukan rumah seperti panti. Opa Mamat ingin pulang, tapi dia tak tahu harus pulang kemana. Alasan Opa ingin pulang adalah karena kehidupan dipanti tidak bisa membuat dirinya nyaman ,disini para lansia selalu ribut dan saling membenci, itu yang Opa Mamat tidak suka dari Panti.
Hanya ini sepenggal kisah dari Opa Mamat.
3.3 PROFIL PENGURU
3.3.1. PROFIL PENGURUS ASRAMA
Nama : Cucun Suryani
TTL : Bandung, 27 Februari 1975
Alamat : Jl. SukamajuTimur, No.44. Lembang
Status : Menikah( 3anak )
PendidikanTerakhir : Tamat SMA
Hobbi : Berenang
Harapan : Menjadiibu yang bergunabagianak-anaknya
Jabatan : PengurusAsrama (sudah 3 tahun)
3.3.2. PROFIL PETUGAS INTI
Nama : Kusmana (Pak Engkus)
TTL : Majalaya, 08 Februari 1981
Alamat : GegerkalongHilir RT 06/RW 04.Kelurahan Gegerkalong Kec.Sukasari
Status : Menikah
PendidikanTerakhir : LULUS SMA
Jabatan : Pengurus bagian umum
Pesan untuk relawan : “mudah-mudahan bisa kesini lagi”.
Kesan : Bagus
Harapanuntukmahasiswa : Harus lebih bagus lagi dalam manajemen waktu
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat yaitu dengan cara menjadi sukarelawan disebuah panti ,mahasiswa dapat mengetahui segala hal yang berkaitan dengan lansia. Kehidupan didalam panti ternyata tidak seindah yang dipikirkan dan tidak seburuk yang dibayangkan .Terjun langsung kelapangan dan mendapatkan ilmu, pengetahuan terkait wismalansia, dan tentunya menambah relasi/persahabatan diantara mahasiswa dan lansia begitu juga diantra pengurus dengan mahasiswa yang menjadi sukarelawan. Selama melakukan kegiatan banyak hal yang ternyata berkaitan dengan pengamalan buku 7 Habits, selama menjadi sukarelawan banyak hal yang menyadarkan bahwa selama ini saya tidak pandai bersyukur. Kegiatan ini telah membawa saya untuk lebih dekat dengan sang Maha Kuasa.
SARAN
Saran saya terhadap kegiatan ini adalah untuk menambah lagi personil disetiap kelompok agar kegiatan kami bisa lebih mobile. Memang bisa saja dengan 3 orang anggota kami melakukan banyak kegiatan ,akan tetapi cakupannya kurang luas.
Dan saran saya terkait lansia atau pantinya itu sendiri adalah ketika kita dihadapkan pada satu pilihan antara karir atau mengurus orang tua, kita mesti memikirkan keputusannya matang-matang. Karena ternyata tindakan yang kita ambil, maksud kita disini biasanya berperan sebagai anak bisa saja akan memperburuk keadaan,karena seorang lansia akan merasa terasingkan dan merasa tidak dianggap ketika mereka dipaksa oleh keadaan untuk tinggal disana.
DAFTAR PUSTAKA